BLORA, SABDODADINEWS.ID – Sebanyak 30 siswa asal Kabupaten Blora resmi diberangkatkan untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 18 Rembang, Jumat (31/7/2026). Selama pembangunan Sekolah Rakyat di Kecamatan Cepu masih berlangsung, para siswa akan menjalani proses belajar mengajar di Rembang dengan sistem pendidikan berasrama.
Prosesi pelepasan berlangsung di halaman Kantor Sekretariat Daerah (Setda) Blora dan dipimpin langsung oleh Bupati Blora, Arief Rohman. Suasana haru tampak menyelimuti pemberangkatan ketika para orang tua mengantarkan putra-putri mereka untuk memulai perjalanan menempuh pendidikan di luar daerah.
Bupati Arief Rohman mengatakan, untuk sementara Pemerintah Kabupaten Blora menitipkan para siswa di SRMA 18 Rembang hingga pembangunan Sekolah Rakyat di Cepu selesai.
“Untuk sementara anak-anak kita titipkan di Rembang karena pembangunan Sekolah Rakyat di Cepu masih berjalan. Semoga mereka betah, dapat belajar dengan baik, serta membawa nama baik Kabupaten Blora,” ujar Arief.

Ia berpesan agar para siswa mampu beradaptasi dengan kehidupan di asrama. Menurutnya, pengalaman tinggal jauh dari keluarga menjadi tantangan baru yang harus dijalani dengan semangat, disiplin, dan tanggung jawab.
“Anak-anak harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, mengikuti seluruh aturan yang berlaku, rajin belajar, dan semoga kelak menjadi generasi yang berprestasi serta membanggakan Blora,” pesannya.
Kepala SRMA 18 Blora, Tri Yuli, menjelaskan pemberangkatan kali ini melibatkan 30 siswa beserta 30 orang tua. Pemerintah Kabupaten Blora memfasilitasi keberangkatan menggunakan dua unit bus medium yang masing-masing berkapasitas sekitar 35 penumpang.
Ia menegaskan, seluruh peserta didik dipilih melalui proses seleksi yang mengutamakan kondisi ekonomi keluarga, bukan berdasarkan pembagian kuota di setiap kecamatan.
“Kami tidak memakai sistem kuota per kecamatan. Penentuan siswa dilakukan melalui ground checking dengan mengacu pada keluarga yang benar-benar membutuhkan, yakni kategori desil 1 dan desil 2. Karena itu, ada kecamatan yang tidak memiliki peserta, termasuk Cepu,” jelas Tri Yuli.
Salah seorang wali murid, Yadi, petani asal Desa Jetakwanger, Kecamatan Ngawen, mengaku bersyukur putrinya, Siti Marisa, diterima sebagai siswi Sekolah Rakyat. Baginya, kesempatan tersebut menjadi harapan besar agar sang anak dapat memperoleh pendidikan yang lebih baik meski harus tinggal jauh dari keluarga.
“Saya bekerja sebagai petani. Kemampuan ekonomi kami terbatas. Sebelumnya anak saya mondok di Kunduran. Sekarang harus jauh lagi, tetapi saya ikhlas demi masa depan dan pendidikannya. Saat ada kesempatan mendaftar Sekolah Rakyat, kami mengajukan dan alhamdulillah diterima,” tutur Yadi.

Program Sekolah Rakyat merupakan upaya pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Hingga pembangunan Sekolah Rakyat di Cepu rampung, seluruh siswa asal Blora akan mengikuti proses belajar di SRMA 18 Rembang dengan sistem pendidikan berasrama.
(Farros/SABDODADINEWS.ID)
