BLORA, SABDODADINEWS.ID – Harapan pembangunan tiga embung baru di Kabupaten Blora melalui bantuan keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah hingga kini masih harus menunggu kepastian.
Meski proses administrasi telah diajukan, pelaksanaan proyek senilai sekitar Rp9 miliar tersebut belum mendapat persetujuan resmi dari pemerintah provinsi.
Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPR Blora, Surat, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyampaikan dokumen Rencana Kerja Operasional (RKO) sebagai salah satu syarat pencairan bantuan.
Namun hingga Kamis (2/7/2026), belum ada keputusan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
“Belum ada kepastian untuk pelaksanaannya dari Provinsi,” ujar Surat, Kamis (2/7/2026).
Ia juga menanggapi informasi yang beredar mengenai kemungkinan batalnya pembangunan tiga embung tersebut.
Menurutnya, hingga saat ini DPUPR Blora belum menerima pemberitahuan ataupun keputusan resmi dari pemerintah provinsi.
“Belum ada informasi resmi. (informasi terakhir) juga belum ada,” tambahnya.
Program pembangunan tiga embung itu direncanakan menggunakan anggaran sekitar Rp9 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi Jawa Tengah.
Lokasi pembangunan meliputi Desa Temulus dan Desa Wulung di Kecamatan Randublatung, serta Desa Adirejo di Kecamatan Tunjungan.
Keberadaan embung tersebut diharapkan mampu memperkuat ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Embung Temulus diproyeksikan mengairi sekitar 140 hektare sawah, Embung Wulung sekitar 31 hektare, sedangkan Embung Adirejo diperkirakan melayani sekitar 20 hektare lahan pertanian.
Berdasarkan data DPUPR Blora, saat ini terdapat 78 embung yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten.
Pengelolaannya terbagi dalam tiga kewenangan, yakni Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, DPUPR Provinsi Jawa Tengah, dan DPUPR Kabupaten Blora.
Meski jumlah embung terus bertambah, kebutuhan infrastruktur penampungan air masih dinilai cukup tinggi di sejumlah wilayah.
Salah satunya Kecamatan Jati yang masih memerlukan tambahan embung guna mendukung ketersediaan air, khususnya untuk sektor pertanian saat musim kemarau.
(Ekw/)
