BLORA, SABDODADINEWS.ID – PT Blora Patragas Hulu (BPH), badan usaha milik daerah (BUMD) Kabupaten Blora, mencatat peningkatan setoran dividen dari Participating Interest (PI) Blok Cepu pada 2025. Nilai dividen yang disalurkan kepada Pemerintah Kabupaten Blora mencapai Rp127 miliar.
Jumlah tersebut mengalami kenaikan sekitar Rp27 miliar dibandingkan setoran dividen tahun 2024 yang berada di angka Rp100 miliar.
Direktur Utama PT BPH, Hamdun, menjelaskan bahwa pada tahun lalu perusahaan membukukan pendapatan tahunan dari PI Blok Cepu sekitar Rp130 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp127 miliar dapat disetorkan sebagai dividen kepada pemerintah daerah.
“Perolehan itu tergantung dari produksi Exxon (operator/kontraktor pengelola blok Cepu). Lalu pendapatan juga dipengaruhi harga minyak hingga kurs rupiah terhadap dolar,” ujar Hamdun, Minggu (07/06/2026).
Menurut Hamdun, saat ini Exxon Mobil Cepu Ltd selaku operator Blok Cepu memang mengalami penurunan produksi. Namun kondisi tersebut masih tertolong oleh tren kenaikan harga minyak dunia sehingga potensi pendapatan yang diterima BPH relatif stabil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Informasi terbaru, berdasarkan data SKK Migas, lifting minyak Exxon Mobil hingga 31 Mei 2026, tercatat mencapai 129.915 barel per hari (bph) atau 87,5 persen, dari target yang ditetapkan di APBN 2026 sebesar 148.500 barel per hari,” terang Hamdun.
Ia juga menilai peluang pengembangan lapangan migas baru masih terbuka. Menurutnya, keputusan pembukaan lokasi eksplorasi baru akan mempertimbangkan sejumlah aspek utama dalam industri migas, mulai dari ketersediaan cadangan, teknologi yang digunakan, hingga kebutuhan pasar.
“Kalau prinsip alam, cadangan migas pasti semakin turun. Namun operator harus menjaga produksi harian sebagai pemenuhan pasar,” terangnya.
“Jadi menurut saya, tetap akan ada kajian untuk pembukaan lapangan baru,” sambung Hamdun.
Selain potensi minyak bumi, Hamdun menyebut Blok Cepu juga memiliki cadangan gas alam yang cukup besar. Ia memandang komoditas gas berpotensi menjadi penopang keberlanjutan usaha di masa mendatang.
“Kalau menurut saya nanti akan bergeser ke Gas alam. Tapi untuk gas terkendala serapan atau pasar yang dituju. Harus ada perusahaan yang menyerap hasil gas tersebut untuk kebutuhan industri,” ujarnya.
(Rgw/SDNews)
