BLORA, SABDODADINEWS.ID – Sedikitnya 43 kejadian kebakaran di kawasan permukiman tercatat terjadi di Kabupaten Blora sepanjang Januari hingga Juni 2026. Dari kejadian tersebut, kerugian material yang nominalnya berhasil dihimpun mencapai Rp6,37 miliar.
Jumlah tersebut bukan angka keseluruhan kerugian kebakaran. Sebab, masih terdapat sejumlah kejadian yang tercatat tanpa mencantumkan nilai kerugian material.
Kepala Satpol PP Kabupaten Blora Pujo Catur Susanto mengatakan, angka 43 kejadian tersebut khusus mencatat kebakaran di kawasan permukiman.
Baca Juga:
Sementara kebakaran lahan belum dapat dipastikan jumlahnya karena data penanganannya berkaitan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora.
“Jadi kejadian tersebut tercatat 43 yang kebakaran di permukiman. Kalau lahan kita tidak memiliki data pastinya karena kita gabungan BPBD,” ujar Pujo saat ditemui, Selasa (11/8/2026).
Dari puluhan kejadian tersebut, kebakaran rumah menjadi kasus yang paling banyak. Tercatat sebanyak 27 kejadian merupakan kebakaran rumah.
Korsleting Listrik Jadi Perhatian
Pujo menyebut korsleting listrik menjadi salah satu penyebab yang paling sering ditemukan dalam kejadian kebakaran.
“Yang paling banyak itu penanganan di luar kebakaran. Kejadian kebakaran itu ngakunya yang terbanyak dari konsleting listrik,” katanya.
Selain korsleting listrik, titik awal kebakaran juga disebut kerap ditemukan di bagian belakang bangunan.
Menurut Pujo, bagian tersebut biasanya berdekatan dengan dapur maupun kandang sehingga memiliki potensi menjadi titik awal munculnya api.
“Makanya yang terbakar rata-rata dari belakang, biasanya itu dari kandang atau dapur, jarang sekali dari ruang tengah,” ujarnya.
Satu Kebakaran Ruko Rugikan Rp4,5 Miliar
Besarnya nilai kerugian selama enam bulan pertama 2026 salah satunya dipengaruhi kebakaran ruko di Kecamatan Ngawen.
Kebakaran tersebut ditaksir menyebabkan kerugian sekitar Rp4,5 miliar.
Selain itu, kebakaran pabrik briket di Kecamatan Kunduran juga tercatat menimbulkan kerugian cukup besar, yakni sekitar Rp1 miliar.
Jika digabung dengan sejumlah kejadian lain yang memiliki nominal kerugian, akumulasi kerugian yang tercatat mencapai Rp6,37 miliar.
Namun, Pujo mengingatkan angka tersebut masih bersifat sementara berdasarkan nominal kerugian yang tercantum dalam data kejadian.
“Dengan kerugian yang tertulis sekian tadi dan sebanyak kerugian sesuai data itu, ada juga beberapa kerugian yang tidak tertulis,” jelasnya.
Artinya, nilai Rp6,37 miliar merupakan akumulasi kerugian yang dapat dihitung dari data yang tersedia. Nilai kerugian sebenarnya berpotensi lebih besar karena tidak semua laporan kejadian mencantumkan nominal kerugian.
Selain itu, angka tersebut juga belum memasukkan secara pasti seluruh kejadian kebakaran lahan.
Dengan kondisi tersebut, data 43 kejadian sepanjang Januari hingga Juni 2026 merupakan catatan kebakaran kawasan permukiman, dengan kebakaran rumah menjadi jenis kejadian yang paling dominan.
(Frs/SDNews)
