
BLORA, Sabdodadinews.id – Dugaan perundungan terhadap seorang siswa SMPN 1 Blora menjadi perhatian. Korban disebut mengalami luka pada bagian bibir hingga memar di wajah setelah diduga dipukul dan ditendang oleh sejumlah siswa.
Tokoh masyarakat Blora, Danu Sukoco, mengatakan dirinya baru mengetahui lebih banyak mengenai masalah tersebut setelah bertemu langsung dengan korban.
Danu mengaku mendapat cerita dari korban maupun sejumlah pihak lain mengenai kondisi yang terjadi di lingkungan SMPN 1 Blora.
Menurutnya, SMPN 1 Blora selama ini dikenal sebagai salah satu sekolah favorit di Kabupaten Blora. Hal tersebut tidak lepas dari sejumlah lulusannya yang berhasil meraih kesuksesan.
“Memang di SMPN 1 Blora itu dianggap sekolah favorit. Nyatanya memang lulusannya ada yang sukses, jadi bintangnya,” ujar Danu.
Baca Juga:
https://sabdodadinews.id/sebulan-digarap-tmmd-gembyungan-tuntaskan-jalan-makadam-hingga-dua-rtlh/
Namun, Danu menyoroti adanya kelompok-kelompok siswa yang berkisar dari sejumlah wilayah, seperti Bangkle, Tempelan hingga Jenar.
Ia menuturkan, permasalahan yang dialami korban bermula dari kejadian yang disebut sebagai candaan antarsiswa. Korban disebut pernah merasa dijebak oleh teman-temannya.
Karena merasa dijebak, korban ikut kemudian membuat jebakan dengan menaruh udara menggunakan gayung di balik pintu. Namun, korban tidak mengetahui siapa yang akhirnya terkena jebakan tersebut.
Persoalan itu kemudian berlanjut hingga korban diduga mengalami kekerasan. Danu mengatakan korban pada hari Jumat sempat memukul. Pada saat itu, korban disebut memilih diam karena tidak ingin persoalan berkembang menjadi monarki.
Sehari berikutnya, korban kembali mengalami kekerasan. Danu menuturkan, korban sebelumnya mendapat informasi dari temannya bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.
Korban kemudian menemui orang tersebut di lantai dua lingkungan sekolah. Namun, korban justru kembali berdetak dan ditendang.
“Dia malah memukul lagi, ditendang lagi sampai, mohon maaf, seperti gambarnya pecah, sobek, agak memar-memar juga wajahnya,” ungkap Danu.
Akibat kejadian tersebut, korban disebut telah mendapatkan pengobatan. Korban dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan obat. Biaya pengobatan disebut ditanggung oleh orang tua korban.
Dan kemudian mengambil pengawasan pihak sekolah terhadap aktivitas para siswa.
Ia menilai pihak sekolah perlu mengetahui pola pergaulan dan kelompok-kelompok siswa yang berada di lingkungan sekolah agar potensi konflik dapat dicegah.
“Pertanyaan saya, pengawasannya bagaimana?” kata Danu.
Danu juga menyampaikan informasi mengenai adanya siswa yang diduga terlibat dalam kejadian tersebut yang disebut merupakan anak anggota DPRD Blora. Namun, ia menyerahkan kepastian informasi tersebut kepada pihak sekolah dan pihak yang berwenang.
Dinas Pendidikan Turun Tangan
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Sunaryo, mengatakan kedatangannya telah mendatangi SMPN 1 Blora setelah mendapat informasi adanya siswa yang diduga dirundung atau dipukul oleh teman sekolahnya.
“Kami juga sudah ke sekolah SMPN 1 Blora untuk mengungkap permasalahannya seperti apa. Kami mohon melakukan pendekatan kedua belah pihak, baik orang tua korban maupun pelaku, untuk diselesaikan secara kekeluargaan,” ujar Sunaryo.
Sunaryo mengatakan dia juga telah meminta gurunya untuk mengunjungi rumah korban dan bertemu dengan orang tua untuk menyampaikan kronologi kejadian secara utuh.
“Kemarin kami sudah meminta bapak ibu guru untuk hadir ke rumah korban dan bertemu orang tua untuk menyampaikan kronologi kasus yang sebenarnya, agar peristiwanya bisa ditimbang,” katanya.
Menurut Sunaryo, dirinya juga telah menerima bukti laporan terkait kasus tersebut yang dilaporkan ke Polres Blora. Dinas Pendidikan akan terus pemerataan perkembangan penanganannya.
Sekolah akan menghadirkan dan kami minta untuk didampingi oleh sekolah karena dia masih berusia anak. Penanganan anak juga harus hati-hati, jangan sampai menimbulkan trauma pada anak sendiri,” jelasnya.
Sunaryo menyebut dugaan kekerasan tersebut terjadi sebanyak dua kali, yakni pada Jumat dan Sabtu pada awal Agustus 2026.
Pihaknya juga telah meminta sejumlah siswa yang diduga terlibat untuk memberikan keterangan. Menurut Sunaryo, ada siswa yang mengakui adanya tindakan pemukulan dan penendangan.
Baca Juga:
“Kemarin ada beberapa yang terkait pelaku itu kita hadirkan dan kita tanya agar tidak kembali melakukan itu lagi. Ada salah satu anak yang kita minta untuk cerita, memang benar dalam hal itu ada yang menendang, ada yang mukul,” ungkapnya.
Meski begitu, Sunaryo mengatakan masih perlu menelusuri secara menyeluruh mengenai penyebab dan kronologi kejadian.
“Kan ada sebab dan akibat. Karena sebab dan akibat di sana, nanti ditelusuri,” ujarnya.
Sunaryo menambahkan, pihak sekolah telah mendatangi rumah korban dengan didampingi Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial untuk melakukan komunikasi dengan korban dan keluarganya.
Ia berharap persoalan tersebut tidak terselesaikan apabila masih dapat diselesaikan secara kekeluargaan.
“Intinya kami berharap tidak sampai selesai. Kalau bisa diselesaikan secara kekeluargaan ya selesai, apalagi ini anak-anak. Dunia anak-anak kan dinamikanya seperti itu,” katanya.
Menurut Sunaryo, sekolah di Kabupaten Blora sebenarnya telah dibekali program budaya sekolah aman dan nyaman melalui kelompok kerja (Pokja). Namun, praktiknya kasus perundungan masih menjadi tantangan di dunia pendidikan.
“Sebetulnya anak sekolah itu sudah dibekali itu, tapi praktiknya masih ada perundungan di dalam pendidikan. Jadi ini memang menantang kita di dunia pendidikan,” tegasnya.
Sunaryo meminta seluruh pihak, baik dinas, sekolah maupun guru, tidak lengah dalam melakukan pengawasan terhadap anak-anak dan remaja.
“Untuk dunia anak-anak atau remaja saat ini sebenarnya pemicunya banyak. Emosi anak-anak remaja ini dapat mudah tersulut, pengaruh pergaulan dan orang lain. Jadi ini pembelajaran bersama untuk kita agar ada pengawasan lebih,” jelasnya.
Terkait jumlah siswa yang diduga terlibat, Sunaryo mengaku belum mengetahui secara pasti. Namun demikian, berusaha akan terus memadukan perkembangan kasus tersebut agar segera mendapatkan penyelesaian dan tidak mengganggu proses belajar mengajar.
“Kami akan terus berkumpul agar proses ini segera terselesaikan dan tidak mengganggu proses belajar mengajar anak itu,” tutupnya.
Sebagai informasi, dugaan perundungan di lingkungan SMPN 1 Blora bukan kali pertama menjadi perhatian. Sebelumnya juga pernah terjadi peristiwa perundungan terhadap siswa di sekolah tersebut.
(F)
