OPINI
Apabila karya jurnalistik bisa dipindahkan dengan sekali salin, maka yang sesungguhnya hilang bukan hanya hak cipta, tetapi juga etika dan rasa malu. Inilah ironi yang kini menghantui sebagian wajah pers di Blora.
Karya tulisan disalin, foto diambil, sudut pandang dijiplak tanpa izin, tanpa atribusi, tanpa rasa bersalah. Lebih ironis lagi, praktik ini dilakukan oleh mereka yang mengaku bagian dari dunia pers.
Mereka tidak hadir di lapangan, tidak membangun jejaring, tidak menyusun isu, bahkan tidak repot memahami konteks.
Yang mereka lakukan hanyalah menunggu menunggu karya orang lain terbit, lalu mengemas ulang seolah itu hasil kerja sendiri. Inilah potret wartawan yang kehilangan daya cipta, tapi masih ingin menikmati sorotan.
Fenomena ini bukan hanya soal malas bekerja, Ini adalah krisis integritas. Jurnalisme sejatinya lahir dari proses observasi, verifikasi, keberanian bertanya, dan tanggung jawab menyampaikan kebenaran.
Namun bagi “wartawan penumpang gratis”, proses itu dianggap beban. Yang penting tampil, yang penting tayang, meski dengan cara merampas jerih payah orang lain.
Lebih menyedihkan lagi, mereka sering muncul di sela-sela isu yang dibangun wartawan lain. Ketika sebuah persoalan mulai ramai dan mendapat perhatian publik, barulah mereka ikut nimbrung.
Bukan untuk memperkaya sudut pandang, melainkan hanya menumpang popularitas. Mereka hadir tanpa kontribusi, tapi ingin diakui seolah berperan.
Menurut saya, pencurian karya baik tulisan maupun foto adalah bentuk kekerasan intelektual. Ini bukan soal “saling berbagi informasi”, melainkan perampasan hak cipta dan penghinaan terhadap profesi. Ketika praktik ini dibiarkan, yang rusak bukan hanya individu korban, tetapi ekosistem pers secara keseluruhan.
Ironinya, para pelaku sering kali paling lantang bicara soal idealisme pers. Namun di balik kecakapannya dalam berbincang itu, mereka justru mengkhianati nilai paling dasar yaitu kejujuran. Mereka ingin disebut wartawan, tapi enggan menjalani kerja kewartawanan.
Blora tidak kekurangan isu. Yang minim adalah keberanian untuk bekerja jujur dan mandiri. Jika seseorang tak mampu mencari bahan sendiri, tak sanggup melahirkan perspektif sendiri, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan dunia jurnalistiknya melainkan kelayakannya menyandang profesi wartawan.
Sebab, jurnalisme bukan belaka tentang menulis. Ia adalah soal etika, integritas, dan tanggung jawab. Dan mereka yang memilih mencuri karya orang lain, sejatinya telah menyerahkan martabatnya sendiri.
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili sikap redaksi.
Rengga Wahana
