Blora, SabdoDadiNews – Desa Sumurboto, Kecamatan Kunduran, Blora, dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan anyaman bambu yang masih terjaga hingga kini. Karya tangan para perajin desa ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga menjadi bagian penting dari warisan budaya lokal. Perkembangan tersebut tercatat pada Selasa, (16/9/25).
Kepala Desa Sumurboto, Suprapti, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kerajinan bambu di desanya telah diwariskan turun-temurun dan tetap diminati masyarakat. “Kami berupaya menjaga agar kerajinan ini tetap hidup. Selain memberikan tambahan ekonomi bagi warga, anyaman bambu juga menjadi ciri khas Desa Sumurboto yang patut dibanggakan,” ujarnya.
Salah satu tokoh perajin yang masih tekun menekuni tradisi ini adalah mbah Sawit. Ia dikenal sebagai pembuat dunak—sejenis wadah anyaman bambu yang hingga kini masih diproduksi secara manual. Harga jual satu dunak dihargai Rp10 ribu, sedangkan jika dibeli untuk kulakan biasanya hanya Rp7 ribu. Menariknya, mbah Sawit kerap menjual hasil karyanya sendiri ke arah Kunduran dengan menggunakan bus umum.
Dukungan terhadap kelestarian kerajinan bambu di Sumurboto juga datang dari Pemerintah Kabupaten Blora melalui Dinas Perindustrian dan UMKM. Beberapa kali, pihak dinas memberikan ruang pameran dalam kegiatan tingkat kabupaten maupun provinsi untuk memperkenalkan produk anyaman bambu.
“Meski sederhana, hasil kerajinan ini masih laku di pasaran. Kami bersyukur masih ada warga yang setia merawat keterampilan ini,” tegas Kepala Desa Suprapti.
Kerajinan anyaman bambu Sumurboto menjadi bukti bahwa di tengah arus modernisasi, warisan tradisi tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan berkembang, sekaligus memberi makna ekonomi bagi masyarakat pedesaan.
(frs) SabdoDadinews
