BLORA, SABDODADINEWS – Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang sering dipenuhi kepentingan pribadi, hadir sosok sederhana yang memilih jalan pengabdian tanpa sorotan berlebihan. Dialah Keluk Pristiwahana (44), figur yang kiprahnya telah mengakar dalam denyut kehidupan masyarakat Blora.
Bagi warga Blora, nama Keluk bukanlah asing. Ia dikenal sebagai Wiro Anom Tingkat II Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Blora – Pusat Madiun, sekaligus Ketua LSM Gerak (Gerakan Rakyat Anti Korupsi). Meski langkahnya jarang terekspos media sosial, kontribusinya nyata dan konsisten.
Dalam dunia persilatan, Keluk dikenal disiplin, tegas, namun penuh welas asih. “Pendekar sejati tidak diukur dari seberapa kuat pukulannya, melainkan dari ketulusan hati saat menolong sesama,” ujarnya, Senin (15/9/2025).
Lahir dan besar di Ngawi, Jawa Timur, Keluk menetap di Blora sejak 2001. Dari tanah rantau inilah ia menapaki perjalanan panjang, baik dalam persaudaraan silat maupun gerakan sosial. Sejak 2013, ia mendirikan LSM Gerak, sebuah wadah untuk mengawal kepentingan rakyat kecil.
“Saya ingin rakyat kecil tidak dilupakan. LSM Gerak hadir untuk mengawal penggunaan anggaran agar tidak hanya jadi alat kepentingan pribadi pejabat,” tegasnya.
Langkahnya kerap menuntut keberanian, termasuk saat memperjuangkan keberadaan kampus UNY di Blora Kota. “Ketika ramai kabar UNY tidak jadi dibangun di Blora Kota, kami menyuarakan agar tetap berada di jantung Blora. Sebab ini menyangkut masa depan pendidikan generasi muda,” jelasnya.
Meski kerap disebut sebagai tokoh masyarakat, Keluk menolak dikaitkan dengan jabatan politik. “Saya tidak ingin jadi pejabat. Mengabdi tidak harus duduk di kursi kekuasaan. Cukup berdiri bersama rakyat, itu sudah lebih dari cukup,” ungkapnya tulus.
Blora boleh jadi bukan tanah kelahirannya, namun dari sikap dan tindakannya, jelas bahwa ia telah memilih Blora sebagai tanah perjuangan. Masyarakat pun menerimanya bukan sekadar sebagai tokoh, melainkan juga sebagai sahabat, saudara, dan penggerak.
Keluk Pristiwahana mengajarkan satu hal penting: seorang pemimpin sejati tidak selalu lahir dari jabatan, melainkan dari keberanian mendengar, merangkul, dan berjuang bersama rakyat tanpa pamrih.
(frs)
