BLORA, Sabdodadinews – Nama besar Pramoedya Ananta Toer, sastrawan kebanggaan Indonesia asal Blora, kembali menggema lewat kisah dan kenangan adiknya, Soesilo Ananta Toer. Di rumah sederhananya di Blora, Soesilo mengenang sosok sang kakak bukan hanya sebagai pengarang besar, tetapi juga sebagai guru kehidupan yang menanamkan arti keberanian dan kejujuran.
“Mas Pram itu bukan hanya sastrawan. Ia guru kehidupan. Dari beliau saya belajar untuk berani berpikir dan berdiri di atas kaki sendiri,” tutur Soesilo dengan nada tenang, seolah setiap katanya menyimpan kenangan panjang yang tak lekang oleh waktu.
Pramoedya lahir di Blora, 6 Februari 1925, dari keluarga yang menanamkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Jalan hidupnya berliku. Ia pernah dipenjara pada masa kolonial Belanda, dan kembali merasakan pahitnya pengasingan di Pulau Buru pada masa Orde Baru. Namun justru di balik belenggu itu lahirlah karya agung seperti Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca — empat novel yang kini diakui sebagai tonggak sastra Indonesia modern.
Sementara sang adik, Soesilo Ananta Toer, menempuh jalur berbeda. Lahir pada 17 Februari 1937, ia menimba ilmu di Uni Soviet hingga meraih gelar doktor di bidang ekonomi dan filsafat. Namun takdir membawanya menapaki jalan hidup yang keras, dengan stigma dan tuduhan politik yang melekat pada masa lalu. Kini, di usia senja, ia memilih hidup sederhana di Blora, jauh dari sorotan, namun tetap menjunjung tinggi martabat dan kejujuran.Di kalangan masyarakat, Soesilo dikenal dengan sebutan “rektor korek-korek barang kotor.” Julukan itu bukan cemoohan, melainkan penghormatan atas kesederhanaan dan keteguhannya. Setiap hari, ia memulung barang bekas di sekitar Blora — bukan karena terpaksa, melainkan sebagai bentuk kemandirian dan kebanggaan hidup yang halal.
“Saya tidak malu jadi pemulung,” ujarnya sambil tersenyum. “Yang memalukan itu kalau kita kehilangan kejujuran. Saya ini rektor korek-korek barang kotor, tapi yang saya korek sebenarnya harga diri manusia yang sudah banyak dibuang.
”Kisah dua bersaudara ini menegaskan bahwa kehormatan dan keberanian tidak selalu datang dari jabatan atau kekayaan. Pramoedya berjuang lewat tulisan yang mengguncang nurani bangsa, sementara Soesilo mengajarkan makna kejujuran dan keteguhan melalui kehidupan sehari-hari yang sederhana.
Blora menjadi saksi bagi dua anak manusia yang menyalakan api kebenaran dan kebebasan berpikir. Di tengah zaman yang cepat berubah, semangat mereka berdua tetap menjadi pengingat — bahwa api kejujuran, meski kecil, tak akan pernah padam.
(frs)SabdoDadinews
