BLORA, SABDODADINEWS.ID – Kabupaten Blora kembali mencatat tren positif di sektor perdagangan luar negeri. Sepanjang triwulan I 2026, nilai ekspor berbagai produk unggulan daerah mencapai sekitar USD1.398.692 atau setara Rp23,8 miliar.
Capaian tersebut meningkat sekitar Rp10 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Data Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Dindagkop UKM) Blora menunjukkan, pada triwulan I 2025 nilai ekspor tercatat sebesar USD795.809 atau sekitar Rp13 miliar berdasarkan kurs Rp16.413,81 per dolar AS.
Sementara pada triwulan I 2026, dengan kurs Rp17.028 per dolar AS per 7 April 2026, nilai ekspor mengalami kenaikan signifikan menjadi sekitar Rp23,8 miliar.
Kepala Dindagkop UKM Blora, Kiswoyo, mengatakan kenaikan nilai ekspor tersebut ditopang oleh meningkatnya permintaan terhadap tiga komoditas unggulan, yakni furnitur berbahan kayu jati, briket arang batok kelapa, serta produk olahan daun kelor.
“Produk olahan daun kelor sedang naik daun, khususnya di pasar Malaysia. Banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku produk herbal, suplemen kesehatan, hingga kosmetik,” kata Kiswoyo, Kamis (2/7/2026).
Ia menyebut rata-rata nilai ekspor dari Kabupaten Blora mencapai sekitar USD400 ribu setiap bulan.
Selain meningkatnya permintaan pasar, pelemahan nilai tukar rupiah juga dinilai memberi keuntungan bagi produk Indonesia di pasar global.
“Pelemahan rupiah dampak dominonya itu terhadap harga barang dari Indonesia jadi lebih murah,” katanya.
Meski demikian, Kiswoyo menilai potensi ekspor Kabupaten Blora sesungguhnya masih lebih besar dari angka yang tercatat saat ini.
Hal itu karena sebagian produk furnitur berbahan kayu jati dipasarkan menggunakan merek dari luar daerah sehingga proses pencatatan ekspornya dilakukan di daerah asal merek tersebut.
“Selama ini banyak produk olahan kayu jati Blora yang menggunakan brand dari Jepara, jadi tercatatnya disana (Jepara),” ungkap Kiswoyo.
Produk-produk asal Blora kini telah dipasarkan ke berbagai negara di Asia, Eropa, Timur Tengah, Australia, hingga Amerika Serikat.
Negara tujuan ekspor di antaranya Jepang, Malaysia, India, Turki, Bulgaria, Amerika Serikat, Lebanon, Kuwait, Qatar, Prancis, Spanyol, Italia, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, serta sejumlah negara lainnya.
Sementara itu, komoditas briket arang batok kelapa juga telah menembus pasar Lebanon, beberapa negara di Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Dubai, dan India.
“Produk ini dimanfaatkan untuk kebutuhan barbecue, penghangat ruangan, hingga bahan bakar rokok,” ujarnya.
Adapun furnitur berbahan kayu jati asal Blora dipasarkan ke Jerman, Amerika Serikat, Prancis, Spanyol, Italia, Arab Saudi, serta sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Menurut Kiswoyo, semakin luasnya pasar ekspor membuktikan produk-produk unggulan Kabupaten Blora mampu bersaing sekaligus memenuhi standar yang ditetapkan pasar internasional.
“Peningkatan nilai ekspor ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, memperluas pasar produk lokal, serta membuka lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat Kabupaten Blora,” katanya.
Sebagai upaya memperluas pasar ekspor, Kabupaten Blora juga akan memperoleh kuota pendampingan bagi 25 pelaku usaha melalui Export Center Surabaya (ECS).
Program tersebut disiapkan untuk mencetak eksportir baru sekaligus meningkatkan daya saing produk unggulan daerah di pasar internasional.
“Saat ini kita ajak eksportir dan pengusaha yang berpotensi ekspor hasil olahan dari Blora untuk mengikuti ECS. Diharapkan calon eksportir banyak yang berminat, sehingga nantinya produk dari Blora lebih dikenal di luar negeri,” pungkasnya.
(Rgw/)
