Blora, Sabdodadi News – Ormas Pemuda Pancasila (PP) Blora bersikukuh menolak peresmian nama Pramoedya Ananta Toer sebagai nama jalan. Sebab, PP Blora menyebut Pram merupakan eks komunis.
Mereka juga beranggapan, masih banyak nama yang lebih pantas dijadikan jalan.Ketua MPC PP Blora Munaji menyebut sastrawan legendaris tersebut masih terafiliasi dengan komunis.
’’Kalau tidak percaya boleh tanya BIN, BAIS Mabes TNI. Silakan datang ke Kodim Blora,” jelasnya.
Ia berpendapat dengan adanya nama jalan Pramoedya Ananta Toer akan berdampak pada berkembangnya komunis di Blora. Sehingga, pihaknya menolak.
’’Kami enggak pengin, kaitannya komunis, radikalisme di Blora kembali ada,” imbuhnya.
Munaji juga beranggapan, bahwa Pram masih belum layak dijadikan nama jalan. Sebab, masih ada nama lain yang lebih pantas. ’’Samin Surosentiko dan Tirto Adhi Soerjo bisa jadi nama jalan di Blora. Apalagi dua nama ini juga berkontribusi besar dalam sejarah Blora,” katanya.
Menurutnya, Samin Surosentiko berperan besar dalam perjuangan melawan penjajah. Yakni, dengan cara tanpa kekerasan, tidak membayar pajak. ’’Tirto ini bapak pers. Dia juga dari Blora,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi Bupati Blora Arief Rohman yang menunda peresmian penyematan nama Pramoedya Ananta Toer sebagai nama jalan. Lantaran perlu kajian lebih mendalam.
’’Kami apresiasi Bupati Blora. Kaitan jalan akan dikaji ulang,” paparnya. Munaji tak memungkiri Pram memang punya nama besar sebagai sastrawan di kancah dunia. Dan, itu bagus.
Menunjukkan bahwa putra asli Blora memiliki kepintaran, kecerdasan, dan kontribusi penting. ’’Istilahnya begini, meski seribu berbuat baik, sekali berbuat keburukan pasti akan dikenang keburukan itu. Kami bukan menolak kegiatan seabad Pram secara keseluruhan. Kami mendukung. Cuma penamaan jalan, kami menolak,” terangnya.
Sementara itu, salah satu pemateri Dialog Kebudayaan Seabad Pram, Muhidin M Dahlan menyebut jika sebagaimana persis di dalam buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.
Pramoedya Ananta Toer di satu sisi dipuji setinggi langit. Namun ada orang yang membencinya sedalam tambang emas dan tembaga Freeport.
’’Kan itu yang terjadi dengan plang. Andaikan plang nama jalan itu adalah Pramoedya Ananta Toer, begitulah orangnya. Ada yang memuji sehebat-hebatnya, seperti kita ini. Di luar sana ada yang membencinya minta ampun. Peduli amat,” tegasnya. (Rw)
