BLORA, SABDODADINEWS.ID – Pengelola Program Minyak Rakyat di wilayah Soko, Kabupaten Blora, membuka rincian skema harga, potongan biaya, hingga pembagian keuntungan dari pengelolaan sumur minyak rakyat. Penjelasan tersebut disampaikan oleh perwakilan pengurus, Mardi, pada Selasa (9/6/2026).
Mardi menjelaskan, harga minyak yang diterima di tingkat pengelola berbeda dengan harga awal karena adanya sejumlah potongan biaya. Menurutnya, pihak pengelola memilih sistem pembayaran tunai agar nilai yang diterima lebih pasti.
“Kalau sistem cash, yang kami terima sekitar Rp6.050 per liter. Sedangkan yang masuk ke Pertamina rata-rata Rp5.800 per liter,” ujarnya.
Ia menyebutkan, hingga saat ini pihak pengelola telah mengirimkan minyak rakyat ke Pertamina melalui PT Mataram Connection Nusantara (MCN) sebanyak 35 tangki. Setiap tangki berkapasitas 5.000 liter.
Mardi kemudian memaparkan rincian penggunaan dana dari hasil penjualan minyak tersebut. Dari harga yang diterima, terlebih dahulu dipotong sebesar 3 persen untuk pembangunan desa.
Selain itu, terdapat biaya operasional yang digunakan untuk membayar pekerja pengangkut minyak (rengkek) dan penjaga sumur.
“Dari nilai itu dipotong 3 persen untuk pembangunan desa. Kemudian ada biaya operasional sebesar Rp600 per liter, masing-masing Rp300 untuk rengkek dan Rp300 untuk penjaga sumur,” jelasnya.
Setelah seluruh biaya dikurangi, keuntungan yang tersisa dibagi antara pengelola dan investor dengan skema 50:50.
“Setelah itu baru dibagi 50:50. Hasilnya, investor menerima sekitar Rp2.513.000 per ton,” katanya.
Sementara itu, pemilik lahan memperoleh bagian sebesar 15 persen dari harga beli minyak. Mardi juga menegaskan bahwa porsi 35 persen yang menjadi hak pengurus tidak sepenuhnya menjadi keuntungan pribadi karena masih digunakan untuk berbagai kebutuhan desa.
“Dari bagian pengurus masih ada alokasi untuk PAD desa, pekerja, pembelian obat-obatan, kegiatan sosial, dan kegiatan keagamaan,” ujarnya.
Mengenai jumlah sumur rakyat yang beroperasi di Desa Soko, Mardi menyebutkan bahwa terdapat 202 titik sumur yang telah melalui proses verifikasi.
“Total ada 202 sumur yang sudah terverifikasi,” katanya.
Di sisi lain, perwakilan PT Mataram Connection Nusantara (MCN), Roni Mey Yudha, menyampaikan data berbeda terkait jumlah pengiriman minyak rakyat dari Soko ke Pertamina. Menurutnya, hingga saat ini pengiriman yang tercatat baru mencapai 25 tangki.
“Total pengiriman dari Soko sampai hari ini sebanyak 25 tangki,” ujar Roni.
Ia memastikan seluruh data pengiriman telah direkap dan didukung dokumen administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Rekapitulasinya jelas dan ada dokumennya,” tambahnya.
Menanggapi perbedaan data tersebut, Roni menjelaskan bahwa selisih angka berasal dari penghitungan pengiriman yang mencakup tahap uji coba atau trial.
“Kalau dihitung termasuk pengiriman percobaan atau trial, totalnya menjadi 35 tangki,” jelasnya.
Perbedaan pencatatan tersebut menunjukkan adanya perbedaan metode penghitungan antara pengurus lapangan dan pihak perusahaan.
Namun, kedua pihak sepakat bahwa seluruh pengiriman minyak rakyat telah terdokumentasi dan dapat ditelusuri melalui data administrasi yang tersedia.
(Rgw/SDNews)
