BLORA, SABDODADINEWS.ID – Ribuan petani tebu di Kabupaten Blora akhirnya turun ke jalan. Mereka menggelar aksi damai di Alun-alun Blora, Kamis (2/4/2026), menuntut kejelasan nasib Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (GMM) yang hingga kini tak kunjung beroperasi.
Aksi yang digalang oleh Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) tersebut menjadi luapan kekecewaan petani. Pasalnya, keberlangsungan pabrik gula itu sangat menentukan nasib hasil panen mereka.
Dengan membawa ratusan truk dan alat pertanian, massa menunjukkan bahwa persoalan ini bukan hal sepele. Mereka menuntut pemerintah pusat, khususnya pihak Bulog dan Presiden, segera turun tangan.

Ketua APTRI Blora, Sunoto, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan bentuk desakan serius dari petani yang merasa diabaikan.
“Aksi ini terutama tuntutan para petani tebu di Kabupaten Blora. Ini ditujukan kepada Pak Dirut Bulog pusat dan juga Pak Presiden bisa menolong tuntutan petani ini,” ujarnya.
Menurutnya, ada tiga tuntutan utama yang disuarakan. Pertama, mendesak perbaikan total dan pengoperasian kembali PG GMM pada tahun 2026.
“Yang pertama adalah merenovasi atau membenahi PG GMM agar bisa operasional kembali 2026,” lanjutnya.
Kedua, petani meminta adanya perombakan manajemen internal pabrik yang dinilai tidak mampu membawa kepastian.
“Yang kedua, agar adanya pergantian manajemen di PG GMM,” tegasnya.
Tak hanya itu, jika pihak Bulog dinilai tidak sanggup mengelola, petani bahkan membuka opsi pengalihan pengelolaan ke pihak lain.
“Dan yang ketiga, manakala Pak Dirut Bulog tidak siap untuk mengoperasionalkan atau bertanggung jawab tentang jalannya PG GMM, harus diikhlaskan, dipindah alihkan yang memegang atau istilahnya dijual kepada pihak yang lain,” katanya.

Sunoto menyebut, pihak lain yang dimaksud bisa berasal dari sektor swasta maupun BUMN perkebunan.
“Pihak lainnya baik itu swasta maupun PTPN atau SGM,” imbuhnya.
Ia juga menyoroti janji yang sebelumnya sempat disampaikan, namun hingga kini belum terealisasi. Hal ini semakin memperkuat ketidakpercayaan petani terhadap keseriusan penanganan masalah.
“Kalau yang tanggal 14 Januari, kami dijanjikan manakala tuntutan Pak Dirut kepada pemerintah 7 persen dari yang diajukan disetujui, ini GMM mau diperbarui mesin-mesinnya. Maka sampai saat ini belum ada informasi atau kejelasan, semua petani butuhnya kejelasan siap atau tidak,” pungkasnya.
Aksi berjalan tertib dengan pengawalan aparat keamanan. Namun petani memberi sinyal tegas, jika tuntutan kembali diabaikan, bukan tidak mungkin gelombang aksi serupa akan kembali digelar dengan massa yang lebih besar.
(F/SABDODADINEWS)

