SABDODADINEWS – Di banyak pelosok negeri, bangunan kecil dengan papan bertuliskan “Perpustakaan Desa” berdiri sederhana di dekat balai desa. Namun sayang, pintunya jarang terbuka, rak bukunya berdebu, dan pengunjungnya kian sepi. Padahal, di situlah seharusnya cahaya literasi menyala, menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat desa yang haus belajar.
Perpustakaan desa bukan hanya tempat meminjam buku. Ia adalah simbol perlawanan terhadap ketertinggalan. Dari sinilah anak-anak desa belajar membaca dengan rasa ingin tahu yang tulus, para petani menemukan cara baru mengelola lahan melalui buku pertanian, hingga ibu rumah tangga belajar berwirausaha lewat bacaan sederhana.
Namun sayangnya, tak sedikit perpustakaan desa yang kini hanya berdiri sebagai formalitas program. Buku-bukunya tak diperbarui, ruangnya tak terawat, dan pengunjungnya bisa dihitung dengan jari. Padahal, keberadaan perpustakaan desa sangat penting dalam membangun budaya literasi masyarakat akar rumput.
Pemerintah sebenarnya telah memberi ruang melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial dari Perpusnas RI. Tapi kunci keberhasilan tetap ada pada dua hal berupa komitmen pengelola dan partisipasi masyarakat. Tanpa semangat gotong royong, perpustakaan hanya akan jadi bangunan sunyi tanpa makna.
Kini, saat desa-desa mulai maju dengan BUMDes dan teknologi informasi, sudah saatnya perpustakaan desa ikut berbenah. Tidak hanya menyediakan buku cetak, tapi juga membuka akses digital, menyediakan ruang diskusi, hingga menjadi pusat belajar masyarakat.
Perpustakaan desa seharusnya hidup dengan kegiatan literasi, pelatihan, dan ruang kreativitas warga. Karena dari sinilah cahaya pengetahuan menyala, bukan dari kota, tapi dari pelosok desa yang tak pernah berhenti belajar.
(RgaWhn)

